JADIKAN PUASA MOMENTUM MEWUJUDKAN POLA HIDUP SEHAT

Penelitian menunjukkan perubahan kebiasaan makan selama bulan ramadan terjadi dalam bentuk pengurangan frekuensi asupan makanan dan minuman, kecenderungan peningkatan konsumsi makanan dan minuman berkalori tinggi, bertambahnya konsumsi buah-buahan, susu dan produk turunannya, serta keragaman jenis makanan. Walaupun terjadi perubahan pola makan dan menurunnya metabolisme, studi terbaru melaporkan bahwa puasa intermiten (pembatasan makan dengan jeda waktu tertentu) seperti halnya puasa ramadan yang dilakukan dari fajar hingga matahari terbenam selama 30 hari justru menginduksi/memicu protein dalam tubuh sebagai pengatur utama perbaikan DNA dan sistem kekebalan tubuh.

Banyak studi lainnya yang membuktikan bahwa puasa memperbaiki kondisi kesehatan tubuh terutama sistem kardiovaskular, menormalkan glukosa darah dan menurunkan berat badan karena penggunaan lemak tubuh sebagai pengganti asupan kalori yang turun. Pada sisi yang lain, tekanan darah, kerja jantung, gula darah, dan berat badan yang tidak terkontrol akan menyebabkan terjadinya penyakit-penyakit tidak menular seperti jantung koroner, darah tinggi, stroke, diabetes, kanker, gagal ginjal dan lain-lain. Kondisi-kondisi terkait penyakit tidak menular tersebut dalam pemberitaan ilmiah baru-baru ini mengindikasikan telah memperberat mereka yang terinfeksi virus covid-19. Kesembuhan pasien yang terinfeksi covid-19 juga ditentukan oleh kesesuaian diet yang diberikan menurut panduan.

https://www.facebook.com/promkesbatam

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll Up